Puasa, Kesehatan & Produktivitas Kerja
09 September 2008 -- 00/0
Jika saat ini Rasulullah Saw duduk disamping kita : “Wahai saudaraku, janganlah egois dan sok sibuk, sehingga tidak mau berjuang dan berkorban untuk Islam, karena keterbatasan waktu bisnis. Niscaya jika sahabatku Abu Bakar, Umar, Usman, Ali mengatakan 'I am too busy with my business, I don’t have time for Islam' aku yakin Islam tidak akan sampai ke Jakarta, BSD dan lain-lain. Risalah Islam yang didalamnya termasuk ibadah puasa sampai ke tempat kita berada karena jasa-jasa mereka".
Ada dua pendekatan yang dipergunakan dalam mengkaji interelasi puasa, kesehatan dan produktivitas kerja yaitu quantitative analytical dan qualitative analytical.
Quantitative Analytical
Kewajiban puasa pada dasarnya menjadi kebutuhan manusia. Apalagi kewajiban puasa tersebut hanya satu bulan dalam satu tahun. Bila kita kalkulasikan dengan waktu yang digunakan manusia dalam satu tahun sebagai berikut:
- Waktu hidup setahun 24jam x 365 hari = 8.760 jam
- Waktu kerja setahun 8 jam x 365 hari = 2.920 jam (33,22%)
- Waktu istirahat setahun 8 jam x 365 hari = 2.920 jam (33,22%)
- Waktu puasa 14 jam x 30 hari = 420 jam (4,8%).
Berarti manusia diwajibkan berpuasa 4,8% dari waktu yang digunakan dalam setahun. Kita patut bertanya kepada mereka yang tidak berpuasa. Bukankah kewajiban tersebut jauh sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan nikmat yang diberikan Allah Swt kepada manusia? Bukankah perilaku yang demikian aktualisasi dari sifat kufur nikmat?
Rasulullah meriwayatkan dalam hadits qudsi yang artinya : ”Setiap pekerjaan Bani Adam adalah miliknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah milikKu dan Akulah yang akan memberikannya pahala” (HR Bukhari)
Qualitative Analytical: Puasa dan Kesehatan
Arti penting puasa tidak sekedar bermanfaat bagi kesehatan rohani. Bagi kesehatan jasmanipun puasa itu penting. Jasmani manusia membutuhkan pelayanan yang memadai untuk menjaga stabilitas kesehatannya. Islam mewajibkan puasa kepada umatnya sebagai upaya menjaga stabilitas kesehatan rohani dan jasmani.
Puasa merupakan salah satu bentuk preventive action terhadap potensi munculnya penyakit. Para dokter ahli menyatakan bahwa ada beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan berpuasa. Termasuk dalam proses pra-operasi dan Medical Check Up, umumnya pasien diwajibkan untuk berpuasa.
Manfaat puasa sangat signifikan dalam mengurangi lemak yang kerap sekali menjadi faktor penyebab dominan beberapa penyakit dan kegemukan. Lemak selalu bersarang dalam raga manusia ketika manusia tersebut tidak memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. Seringkali manusia sakit akibat cara makan yang salah, padahal dengan berpuasa kendala-kendala tersebut dapat dieliminasi.
Rasulullah SAW senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Dalam sejarahnya hidupnya beliau hanya sekali sakit. Beberapa waktu sebelum beliau wafat, pernah ditanya rahasia kesehatan Rasulullah SAW oleh seorang dokter dari Romawi. Apa yang menyebabkan Anda selalu sehat, ya Rasul? Rasulullah SAW menjawab : ”Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”
Pernyataan Rasulullah SAW merupakan tata cara menjaga kesehatan yang baik dan benar. Suatu habitual makan secukupnya bahkan Rasul sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Dengan mengatur habitual mengkonsumsi makanan dan menguranginya akan bermafaat bagi kesehatan.
Secara biologis dalam perut manusia terdiri dari tiga unsur yaitu air, makanan dan udara yang harus saling seimbang. Apabila terjadi ketidakseimbangan atau kelebihan salah satunya maka akan berpengaruh bagi kesehatan manusia. Oleh karena itulah mengatur makanan dan menguranginya merupakan preventive action yang paling utama.
Qualitative Analytical: Puasa dan Produktivitas kerja
Dalam menjalankan ibadah puasa behaviour para pekerja sangat dipengaruhi oleh kualitas keimanan dan latar belakang pendidikan rohaninya. Munculnya kasus seseorang yang enggan berpuasa karena khawatir dapat mengurangi produktivitas kerja sebenarnya bersumber pada sejauhmana niat dan keyakinan orang tersebut dalam berpuasa.
Dalam Islam niat menempati rangking pertama dalam menjalankan setiap aktivitas. Niat yang tulus dan ikhlas serta keyakinan yang kuat bahwa mengamalkan ibadah puasa akan dapat mengantarkan pada suatu refleksi diri betapa pentingnya kesadaran tentang keyakinan hidup.
Puasa hendaknya dipahami sebagai kebiasaan membentuk diri menjadi lebih baik (habit forming) yang berpengaruh signifikan terhadap:
- Membentuk pribadi yang jujur dan dapat dipercaya
- Memperhalus dan mempertajam aktivitas kreatif para pemimpin (agenda of the leader) dalam mengelola perusahaan
- Pembentukan budaya kerjasama (corporate culture)
Sudah selayaknya kita sebagai umat Islam di perusahaan sebesar TELKOM ini menyambut bulan suci Ramadhan 1429H yang penuh kemuliaan ini dengan kegembiraan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Agar makna penting puasa dapat diaktualisasikan dalam perilaku sehari-hari. Ikhlas, sabar, disiplin, percaya diri dan tawakal merupakan nilai-nilai puasa yang sangat berharga dalam membentuk probadi muslim yang kaffah.
Mari kita jadikan apa yang kita peroleh saat ini tidak hanya sekedar menjadi wacana namun segera menjadi amalan dan diajarkan mulai dari hal yang kecil-kecil, mulai dari diri sendiri dan mulailah saat ini. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Amien ya Rabbal Alamin.
